YANG MUDA YANG TEPERDAYA

Bersama segenap kesungguhan, rasa pahit, dan prihatin, saya harus menyatakan dengan sejujurnya, tentang semua karya dan prestasi anak muda, yang belakangan diekspos secara masif oleh media massa, juga pemerinah dan swasta lainnya, sebenarnya tidak lebih dari bubble yang kosong, jika tidak bisa dibilang omong kosong. Ups! Oke…oke, sebelum marah, melotot dan hendak menampar saya, boleh dengar penjelasan saya dulu sedikit?

Menurut saya, inilah realitas sesungguhnya, dari semua kabar baik tentang anak muda kita saat ini. Dengan semua hasil pendidikan yang mereka dapatkan, dari sistem dan praktiknya yang selalu mengundang kritik dan polemik, pengajaran non-sekolah yang kian tergerus hingga ia mengkhianati makna dan tujuan pengajaran itu sendiri, plus pegangan nilai-nilai tradisi (budaya) serta agama yang banyak mengalami kemerosotan acuan serta otoritas, anak muda tumbuh menjadi sosok yang limbung, rapuh dan rentan.

Tentu saja tidak secara fisis, karena secara biologis kita bersama lebih sehat akibat perbaikan gizi yang signifikan. Namun terbukti, gaya hidup modern ternyata membuat sebagian anak muda mendzalimi tubuhnya sendiri, dengan misalnya makan berlebih, begadang berlebihan, memberi asupan yang merusak (rokok, alkohol, hingga narkoba), dst. Maka hiduplah kemudian anak muda dengan tuntutan besar: berjuang untuk hidup (survive) dalam kenyataan yang kian kompleks dan penuh jebakan mematikan, memenuhi harapan orangtua, dielu-elukan publik –secara licik—sebagai “harapan bangsa” untuk masa depan.

Kelicikan itu kian menyakitkan, ketika mereka para orang tua menjual, mengumpak atau memajang anak muda dalam etalase “harapan bangsa” dalam kesibukan mereka mengkhianati harapan itu sendiri, bahkan membunuh pelaksana harapan yang ia bayangkan sendiri. Dengan hidup koruptif, manipulatif, hipokrit, syahwat tinggi, keadaban yang nadir, dan seterusnya. Hidup, dimana anak muda berjuang untuk survive di dalamnya, ternyata sudah dibusukkan dan dihancurkan segala pranata, ruang dan peluang, hingga kemungkinan imajiner yang biasa diproduksi anak muda yang penuh mimpi.

Jadilah kemudian anak muda tidak lagi mampu meraih atau mengusahakan dengan cara apa pun cita-cita masa kecilnya. Pilihan hidup profesional yang menjulang setinggi daya imajinasi semua berakhir buntu, ketika ruang hidup di negeri ini ternyata telah terbagi secara rapat dan ketat dalam kotak-kotak profesi yang diciptakan secara konspiratif oleh para elit, industrialis-kapitalis termasuk di dalamnya. Seorang anak muda akan menghabiskan hidupnya dalam kotak-kotak itu, yang sudah dijejali oleh aturan main yang diciptakan konspirasi di atas, sehingga ruang dan peluang aktualisasi serta ekspresi anak muda sangat terbatas dan dengan mudah dikontrol.

Inilah satu bentuk kekuatan internal kita, dari konspirasi elit yang keblinger dengan cara berpikir asing hingga perilaku kultural asing, yang ingin terus mempertahankan dominasi diri/kelasnya, dengan antara lain menutup peluang bagi siapa saja –terutama musuh paling potensial, anak muda—untuk menjadi sekuat dirinya. Kecuali tentu para pewaris kekayaan dan kekuasaan mereka, anak-anak muda yang mereka aliri dengan darah konspiratif mereka. Maka, terimalah anak muda, apa pun hidup dan profesi yang kamu pilih, kita tahu semua dimana ujungnya. Tidak setinggi atau sejauh imajinasi, tapi sejauh kehendak kaum elit mengizinkan. Itu di semua dimensi hidup kita: politik, bisnis, akademik, budaya, bahkan hingga agama.

Karena itu cermatilah “prestasi” anak-anak muda yang kita banggakan di berbagai media massa itu, ternyata hanya bermain di hilir, di tingkat eceran dengan margin yang sangat kecil. Terlalu ruang dan peluang mereka untuk masuk kelas menengahapalagi bermain di hulu, jaringan dan modal besar dimana elit konspiratif itu berada. Jangan mimpi. Maka seinovatif apa pun anak muda itu, mungkin bentuknya hanya sekadar sukses membuat donat gaya baru dengan topping ayam goreng atau rendang lalu nge-franchise jadi 10 kios di 3 kota, dan media massa menampilkannya sebagai tokoh sukses bulan ini.

Atau menjadi pendiri LSM dengan aksi-aksi jalanan, kritik yang penting keras walaupun ngawur, memainkan relasi internasional untuk cari biaya kontrakan dan cicilan sepeda motor, lalu berakhir jadi pengurus partai tingkat cabang, atau sehebatnya anggota parlemen nasional sebagai puncak prestasi yakni: menikmati fasilitas dari uang rakyat, dan rekening gemuk dari uang para pencoleng ekonomi bangsa kita. Masa depanmua berakhir di sudut atau plafon sebuah kotak konspiratif. Kamu hebat berupaya, tapi akhirnya teperdaya, anak muda.

Bagaimanapun, dengan keadaanya yang mengenaskan itu, saya tetap mengekspresikan kekaguman saya pada anak muda. Bukan oleh prestasi kosong di atas, yang terjadi akibat pengerdilan bahkan pemangkasan imajinasi kaum elit. Tapi oleh semangat, daya kerja, dan keinginan hebat untuk sekurangnya survive, dalam realitas diri yang dizalimi oleh sistem (pendidikan dan pengajaran) dan gaya hidup modern yang hyper-consumtive, serta kotak-kotak yang menjadi penjara atau ruang-peluang yang terrekayasa. Anak muda tetap berusaha keras, dengan senyum dan tawa, tanpa rasa kecut, takut, siri dan irik, kompetisi yang saling bunuh, bahkan dendam pada kaum elit (karena mereka mungkin tak menyadari hidup yang dikonspirasi oleh mereka).

Dan kekuatan yang pernah diyakini presiden pertama kita dulu sebagai modal yang mampu “menggoyang dunia” itu, kini harus kempis dan lapuk dalam kotak yang akhirnya menjadi nisan peradaban kita. Kecuali satu hal, terciptanya dunia baru, dimana mereka kini mereka bebas bermain, berusaha bahkan menggapai cita-citanya, tanpa gangguan, intervensi, atau rekayasa konspiratif elit atau kaum tua. Dunia yang sama sekali tidak dikenali apalagi mampu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan lama. Dunia baru yang sungguh diyakini menjadi masa depan anak muda kita, peduli itu benar atau tidak. Juga belakangan menjadi dunia yang melahirkan selebritas baru. Dunia ajaib, yang sayangnya, harus saya tuliskan di lembar lain, karena keterbatasan ruang –lagi-lagi—meminta saya harus mengakhiri kata-kata saya sampai di sini.

Komentar