Menghina Akal Sehat

Tak sejajar dengan perkembangan sinematografi atau film layar lebar—yang belakangan mencatat kemajuan baik dari cerita, topik, maupun hal teknis dan artistik— karya-karya sejenis di layar kaca justru mundur signifikan. Baik dari segi (plot) cerita, karakter, penyutradaraan, maupun persoalan artistik secara luas, sinema-elektronik alias sinetron jika tak dibilang sangat buruk (tragis), ia sangat menggelikan (komedis); dua unsur teatrikal yang 2,5 milenia jadi lambang segala bentuk seni dramatik.

Tentu saja “menggelikan” bukan karena daya atau selera (sense of) humor yang tinggi, sebaliknya, lantaran terlalu jauh mengingkari akal sehat, bahkan menghina common sense kita. Umumnya cerita dalam sinetron bergulir secara tak wajar meski seolah kenyataan (biarpun itu fiksi yang “realis”, sebagaimana genre dari semua karya elektronik itu), tak berlangsung melalui logika hidup yang kita kenal.

Cerita melalui logika “semau gue” penulis skenario yang mungkin hanya melayani libido komersial produser. Libido kasar yang mempersetankan apa yang sehat bagi penonton. Tak sesuai kenyataan.

Seorang tukang bakso, misalnya, dalam sebuah peran utama di satu sinetron berperawakan tinggi besar, berkulit putih bersih, hidung mancung, dan bibir merah basah. Menurut indikator biologis, tubuh itu mendapat asupan makanan atau perawatan tubuh sempurna. Cerita yang dipadati aksiden dan koinsiden seperti kliping peristiwa “kebetulan” yang bukan cuma ganjil, melainkan juga membuat perut mulas.

Belum lagi penggunaan lokasi yang sama di banyak sinetron berbeda. Tentu saja semua disebabkan banyak hal, terutama tekanan pada biaya produksi serendah mungkin, hingga pelayanan berlebihan pada selera rendah atau isu publik murahan sebagai kiat komersialitas. Intinya, cara pandang oportunistik, menggampangkan cara yang digunakan.

Jangankan moralitas, etika atau kesantunan, bahkan hukum formal dan informal pun diterabas demi tercapainya tujuan. Penghinaan akal sehat semacam itu juga kita jumpai setiap hari di jalan raya. Rambu, marka, hingga kesantunan berlalu lintas dilanggar tanpa rasa bersalah, bahkan merasa “benar” karena dilakukan secara masif.

Para penegak hukum dalam masalah ini seperti tidur di aspal karena membiarkan pelanggaran berlangsung di ujung hidung. Terjadilah “kebenaran normatif” yang sesat, membuat pengendara motor menjadi monster jalanan.

Seorang ibu bukan saja merasa tidak bersalah ketika mengendarai motor tanpa memakai helm, melainkan juga mengangkut hingga lima penumpang. Sering kita dikeroyok hanya karena menegur pemotor yang melawan arus jalan. Mereka berani melawan polisi, bahkan dengan kekerasan tanpa merasa bersalah. Hukum kemudian tidak lagi perkasa, tetapi lunak bahkan becek.

Kenyataan yang seharusnya disadari aparatus kepolisian telah berdampak tidak kecil bagi hancurnya kepatuhan pada aturan hingga tumbuhnya mentalitas destruktif. Fondasi yang kuat Sesungguhnya apa yang terjadi dalam kehidupan politik kita belakangan ini tidak jauh dari situasi banalnya dengan realitas tragik-komedik di atas.

Betapa menggelikan melihat para politisi saling melempar ujaran, hujatan, hingga fitnah, yang sebagian (besar) sebenarnya justru mengenai diri (dan kelompok) sendiri. Situasi komedis ini makin tragis ketika para politisi memutar balik logika sehingga pengecohan atau pengelabuan itu penghinaan logika (publik) itu sendiri.

Dengan membolak-balik fakta positif jadi negatif, kenyataan jadi ilusi, kebenaran jadi kejahatan, mempermainkan dalil agama, mengagul-agulkan tokoh sebagai pemimpin bangsa, padahal sikap kenegaraannya baru setingkat “bangun tidur”. Atau beberapa figur yang tak risih mem-blow up diri dalam poster dan baliho sebagai kandidat pemimpin utama negeri.

Semua aksi atau manuver yang seakan menganggap publik tak punya cukup akal sehat, menghina akal sehat kita bersama. Apakah situasi-situasi serupa tak terjadi dalam dunia hukum (kasus lapas saja, misalnya), dunia akademik, bahkan dunia spiritual/agama, hingga kebudayaan kita?

Kita semua, seluruh elemen di negeri ini, tak memedulikan apalagi coba mengatasi situasi ini, yang memberi ekses sangat tidak sederhana bagi hidup berbangsa kita. Kehidupan kaum muda hingga masa depan cucu kita. Dampak situasi di atas jelas akan meruntuhkan fondasi intelektual-mental-spiritual, semua pilar utama dari kebudayaan kita. Pilar yang membangun sebuah bangsa, bangsa di mana satu negara jadi perlu dan ada.

Lalu apa yang dapat kita andalkan, apa yang menjadi modal dan arsenal bangsa untuk menghadapi hidup kekinian yang penuh gejolak dan ketidakpastian? Apa yang bisa membuat kita yakin dapat mewujudkan negeri yang berdaulat, bangsa yang kuat, bahkan bermartabat? Benarkah semua dapat dipenuhi dengan pembangunan belaka? Benarkah semua dapat dicapai oleh angka-angka (indikator ekonomi) makro yang plastis dan volatilitasnya tinggi? Tidakkah semua itu harus dicapai oleh satu fundamen yang teguh, berakar di Bumi dan lentur menghadapi angin keras? Tidakkah infrastruktur sehebat apa pun akan sia-sia tanpa kesadaran tinggi untuk memeliharanya?

Akhirnya, tidakkah saudara-saudaraku di kelompok atas atau elite menyadari, justru Anda semua yang paling memprihatinkan dalam menafikan, menyingkirkan, menghina, bahkan mengasasinasi kebudayaan kita? Para penguasa sering tunarungu dan pongah karena  merasa cukup dengan kecerdasan terbatasnya sendiri.

Betapapun hati kecilnya mengakui kebenaran proposi-proposi kultural di atas, desakan pragmatisme dan oportunisme material membuat mereka meninggalkan kedaruratan kebudayaan, bahkan jika perlu mengurbankannya dengan justru memproduksi tradisi budaya kasar dan destruktif (bagi bangsa dan diri sendiri).

Kesepakatan baru Apabila sebuah bangsa, sekurangnya mereka yang tergolong kelas utama (middle upper ke atas), telah secara masif hidup hanya dengan orientasi personal dan sektarian yang sempit, tidak ada konklusi lain kecuali bangsa itu sedang menyiapkan kuburan eksistensi (peradaban)-nya sendiri.

Jika benar itu yang terjadi, kekeliruan (fallacies) yang terjadi bersifat lebih mendasar dari sekadar praksis di atas. Ia setidaknya sistemik. Untuk itu, kita tampaknya harus berani mengakui keberadaan dan kenyataan bahwa semua sistem yang kita jalani ini ternyata tidak mampu meluputkan bangsa ini dari kedegilan zaman.

Ada yang salah, kurang sempurna, tak laik atau tak kompatibel, atau sekurangnya terlalu lemah dan mudah dikhianati dari sistem-sistem (kenegaraan dan kemasyarakatan) yang kita gunakan saat ini. Kesepakatan bangsa kita akan nilai-nilai bersama, platformkebudayaan dan kebangsaan kita ternyata begitu rapuh sehingga tak mampu dan tak memadai dalam mencegah destruksi di semua dimensi kehidupan masyarakat.

Inilah kenyataan tragis yang mau tak mau mengimperasi kita untuk berpikir tentang platform baru di mana tak satu pun pihak, di semua dimensi dan level sosial, alih-alih merusaknya, justru bergerak memperkuat dan menjadikannya arsenal tangguh.

Saya menyatakan ini bukan dengan berkhayal atau berandai-andai, melainkan karena memang kita memiliki banyak bukti dan alasan untuk melakukan hal konstruktif dan reformatif di atas. Sesungguhnya hampir tidak ada negara-bangsa yang besar dan maju yang tidak melakukan hal (serupa) ini. Mereka yang kemudian berjaya, tidak hanya survive menghadapi turbulensi zaman, bahkan tampil perkasa, penuh daulat dan martabat di hadapan dunia dan masa depan. Persoalannya tinggal ketidakpercayaan diri.

Para anggota utama bangsa ini, pengambil kebijakan dan pemegang kuasa (apa pun), karena arogansi oportunisme-materialistik, tidak percaya dan berani “mempertaruhkan” gengsi dan tujuan temporernya untuk sebuah kerja yang memiliki impak berjangka tidak-dekat walau itu kuat dan fundamental.

Cara berpikir yang sudah terlalu dalam dikontaminasi oleh gaya hidup-cara berpikir instan, memandang pembangunan (kebudayaan) sebagai perjudian berisiko terlalu tinggi, lebih tinggi daripada risiko pasar saham, apalagi perdagangan kelontong. Ini memang riwayat komedis, ketika politik, agama, hingga keilmuan dijalankan oleh (mental) pedagang kelontong. Material atau mentalitas.

Maka, sederhana dan sebentar saja, mari kita berpikir sebagai pejabat publik atau penanggung jawab hidup sekian puluh atau ratus ribu bawahan/pegawai, apakah anak dan generasi kita berikut kita akan hidup nyaman atau sekadar selamat hanya dengan tumpukan harta yang kita himpun dengan pelbagai cara?

Lihatlah riwayat hidup kita sendiri, faktor apa yang mendukung sukses kita sekarang, modal material yang kita warisi atau mentalitas tangguh dalam pengajaran pengalaman? Mana yang lebih menyelamatkan kehidupan, harta dan jabatan atau nilai yang liat dalam kebudayaan? Mungkin untuk akal sehat yang terlampau kerap dihina, bisa jadi jawabannya akan menggelikan secara tragis.

Namun, bagi mereka yang masih memiliki daya untuk memelihara kesehatan akal (walau mungkin membawa penyakit bawaan) tentu dapat menjawab secara cukup jernih betapa tujuan hidup yang ingin kita wujudkan ditentukan oleh semua yang ada dalam diri manusia, dalam diri kita.

Bukan yang ada di luarnya. Bangsa-bangsa yang pariah dalam “faktor luar” itu sudah membuktikan pada dunia betapa mereka jaya dengan kekuatan internal manusianya: Singapura, Swiss, Korea Selatan, dan pelbagai negara lainnya. Karena itu, berani dan yakinlah kita untuk bersepakat. Negeri dan bangsa ini jauh lebih membutuhkan kesepakatan atau platform moralitas baru, jika tidak lebih dulu, sejajar dengan kebutuhan infrastruktur material yang memuaskan perut dan dandanan tubuh kita.

Berikan waktu, energi, hati, dan pikiran, juga materi yang diperlukan untuk mulai membangun secara kolektif bangunan kuat kebudayaan kita, sebagai dasar dari platform baru di atas. Sejarah dunia sudah membuktikan, hanya dengan cara itu sebuah bangsa juga negara dapat bertahan atau diselamatkan dari keruntuhan yang disebabkan aparatusnya sendiri.

Apakah dengan data sejarah yang kuat itu Anda masih ingin berpikir, bicara, dan berbuat hal-hal yang tetap menghina akal sehat? Tidak. Anda saya jamin tidak akan kualat. Namun, bila tetap hal itu diperbuat, sebenarnya dunia Anda sudah kiamat.

Kompas, 18 Agustus 2018

Komentar