MATINYA AKAL SEHAT KITA

Zaman berganti, hidup berubah. Ternyata tidak hanya manusia yang berubah menjadi kian berani dan jenial dalam menipu, tapi juga kenyataan itu tersendiri. Dan karenanya, kerap saya tertunduk di jalan ramai, getir dan sedih memandang diri sendiri, juga tentu saja rakyat mayoritas bangsa ini.

Sebagai individu saya, begitupun bagian lain dari rakyat negeri ini, hampir tak pernah mengalami kemarau berita yang penuh kejut dan kehebohan. Setiap hari, tiap jam mungkin, kita dengan deras dihujani berita-berita kontroversial, sensasional, pelik bahkan penuh ancaman. Tidak cuma perang dengan jutaan nyawa hilang, kecelakaan ratusan jiwa melayang, tapi juga perilaku masyarakat yang kian menggiriskan, selebritas yang rakus kamera dan mikropon, hingga –terutama—petinggi (baca: elit dan pejabat publik) yang seolah masokis, makin nyaman bila perbuatannya makin sering dan makin hebat melukai, mendustai atau menjahati rakyatnya sendiri.

Di terminal bis, warung kopi, pos satpam hingga arisan tetangga, seperti burung-burung di hutan desa, orang-orang berkicau ramai membicarakan headlines media massa, infotainment hingga gosip media sosial. Kepala, batin hingga fisik penuh dan sesak. Mengapa kita harus mengalami ini? Betapa tega, ketika merokok saja kian banyak orang menggunakan filter, penguasa dan pengusaha membandangkan data dan info begitu gigantik dan rumit tanpa seleksi. Sementara hidup rakyat banyaksudah begitu pepat dengan urusan keseharian, kebutuhan hidup yang berlari sprint atau masalah sosial yang seolah senantiasa emerjensial.

Bagaimana kita hendak berbenah dan membangun diri, ketika –terutama di tiga dekade akhir, selepas kebijakan open sky policy Suharto dijalankan—kita tidak henti ribut, berdebat hingga berkelahi antar kita sendiri, hampir tiada henti. Apa memang itu kehendak kita sendiri? Atau memang ada pihak lain menginginkannya, sehingga bukan hanya dalam bentuk “mart”, kita bersama kian rajin memroduksi alpa. Hingga karenanya, bukan saja kita lamban berkembang, tapi juga kian invalid mengidentikasi kekuatan dan kelemahan sendiri, justru kian sengit berkonflik dan bertarung, atas nama dua terma yang sahih secara ilmu dan legal secara hukum: persaingan dan kompetisi, demi prestasi dan prestise.

Apa yang paling menggiriskan, juga membuat kadang batin saya tak tahan menitikkan airmata, betapa kenyataan-kenyataan hebat yang kita ributkan, yang membuat gaduh di ruang kerja hingga jamban (tempat terakhir kita bisa sendiri, menyepi), yang membikin pikiran dan spiritualitas kita tersiksa, ternyata bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Namun kenyataan yang menipu. Tipuan yang tak hanya berbentuk lapisan pikiran licik, tapi juga berbagai layers kenyataan yang dusta atau menipu lainnya. Lapisan-lapisan kenyataan yang dihasilkan oleh oligark, konspirasi hingga praktik mafia politik dalam kehidupan bernegara kita. Semacam lapisan-lapisan (layers) virtual yang kita dapatkan dalam dunia teknologi komputasi, dunia yang berlari kian jauh dari adab konservatif perilaku, ortodoksi dalam kulit jangat adat hingga persepsi primordial kita.

Sebagian dari kita mungkin mafhum dan coba mencari“kebenaran” dengan menggali kenyataanyang terpendam di balik sebuah berita hangat dan besar.  Tapi, “kebenaran” itu ternyata tidak teraih, karena masih ada kenyataan di balik kenyataan. Apakah kemudian “kebenaran” dapat akhirnya ditemukan dengan menguliti “kenyataan” dari kenyataan itu? Ya…Tuhan, ternyata tidak. Tak seperti buah-buahan, kulit kenyataan itu berisi banyak lapisan vertikal bahkan varian horisontal, yang membuat siapa pun pemburu kebenaran akan mengalami –apa yang disebut kaum kaum pos-strukturalis—“jalan buntu”. Karena teks bersama konteks gandanya telah menjadi textumatau jalinan teks dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak berhingga.

Dunia kian tak mudah, dan (kebudayaan) manusia tidak mempermudah, walau nasib kadang tiba dengan mudah.

Akal Sehat Tamat

Hal pertama, sekadar misal, ketidakmudahan itu terjadi saat sebuah ukuran (bahkan yang matematis) atau acuan (bahkan yang religius atau ideologis) dengan mudah kini meleleh atau hancur berserak dalam lautan opini dari sungai-sungai kebebasan individu (individual right), kebebasan tiap manusia untuk berpendapat dan berbeda. Kebebasan yang ternyata regulatif, konstitusional bahkan, yang demokratis, katanya.

Akibat praktis atau pragmatis dari kondisi itu adalah kasus-kasus dimana para pesakitan, tersangka hingga –bahkan—pengacara juga hakimnya memanfaatkan relativitas absolut (yang lebih mutlak bahkan dari relativitas Einstein) itu untuk mengaburkan, memelintir, memanipulasi bahkan mengubah sebuah ukuran atau acuan. Hal-hal fundamental dimana kita menemukan apa yang secara praktis disebut sebagai “baik”, “benar”, “layak”, “patut” sampai pada terma filosofis: “normatif” dan “etis”. Di titik diskursif secara kultural inilah terjadi degradasi hingga kematian dari apa yang kita pikir dan yakini sebagai adat/tradisi, ideologi/negara, bahkan agama/kepercayaan. Setidaknya dalam diri seseorang, dalam sentimen personal atau komunalnya.

Tidak perlu hapal teori-teori besar (grand theories/narratives,istilahnya), kita dengan mudah mengerti, norma dan etika atau hal-hal fundamental di atas dicapai(diterima dan dipahami) melalui proses sosial untuk penciptaan kesepahaman kolektif atau sejenis konsensus. Dalam proses serupa itulah kita memperoleh apa juga yang disebut “logika publik”, akal sehat alias common sense, untuk sok kerennya.

Maka di saat seseorang dengan licin dan liciknya memanipulasi atau memutarbalikkan makna dan keyakinan kita bersama tentang kepatutan pikiran, sikap dan tindakan, atau yang ahli dan yang tidak ahli menyebutnya “etika”, sesungguhnya yang ia ingkari atau khianati adalah konsensus itu. Proses dan produk kolektif yang juga antara lain melahirkan bangsa, konstitusi hingga negara, termasuk kedaulatan dan dignity dari keberadaan eksistensialnya. Dalam kalimat lebih ringkas: orang itu sudah ingkar atau berkhianat pada akal sehat.

Lalu kelilingkanlah pandangan mata, akal dan hati kita, ke penjuru bangsa dan bumi, siapakah di antara kita yang telah dengan sembunyi, terang-terangan bahkan dengan tengik dan angkuhnya melakukan pengkhianatan itu, karena ia merasa kekuasaan yang dimiliki lebih tinggi (sekurangnya dapat membeli) akal sehat. Dengan visi dan versinya masing-masing mungkin pandangan itu berhenti pada seseorang atau sekelompok orang. Kelompok yang dalam kurun tiga dekade belakangan, satu setengah terakhir utamanya, dapat kita identifikasi bersama dibentuk oleh generik manusia yang sama: politikus dan pejabat negara. Entah mereka yang berasal dari pengkaderan partai, ormas, dunia usaha, atau kaum profesional umumnya.

Satu setengah dekade mutakhir, yang sering kita labeli juga dengan “usia reformasi” dan secara sembrono dipropaganda sebagai “usia demokrasi”, adalah masa dimana kaum elit –politikus dan pejabat tadi—mengharubiru dunia batin dan akal kita. Berbagai kasus etis dan pidana yang melibatkan pejabat –daerah dan pusat—hingga menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara adalah evidensi faktual dari semua itu. Setya Novanto dan M. Riza Chalid (Senoricha) hanyalah satu puncak dari ketinggian amplitudo gelombang sejarah elit yang penuh khianat itu.

Ternyata mereka, kaum elit-dornalah yang membuat batu besar itu terlempar kembali ke dasar gunung atau lapis terbawah piramida, setelah batu itu susah payah berhasil ditinggikan dan dipuncakkan oleh seorang jelata, sang grass root –yang hidup di kaki piramida/gunung tadi. Sysyphus, namanya.

Bahasa Hati

Bila memang terbukti benar apa yang ada dalam rekaman pertemuan antara pengusaha dan anggota parlemen, atau dengan pejabat kejaksaan/kehakiman dalam banya kasus korupsi –karena antara lain adanya bukti rekaman dan aksi “tangkap tangan”—kita sesungguhnya harus bersyukur dan gembira. Dalam pasal apa? Tak lain, dalam pasal dimana kita tidak lagi berada dalam obskuritas bahkan kegelapan data tentang biangkerok alias para pengkhianat  (konsensus) bangsa itu.Kita tahu siapa dia dan mereka dengan gamblang, tidak di balik kelambu atau hijab artifisialisasi.

Namun demikianlah memang paradoks hidup dan manusia, menangis di saat kita mestinya gembira, begitupun sebaliknya, senang karena menemukan borok peradaban seraya meratapi akibat dahsyat yang diakibatkan maladie akut dan kronis itu. Setiap hari, berita media dalam seluruh genres modern maupun tradisionalnya, telah memberi kita pemahaman yang kuat: akal sehat sudah sekarat, bahkan mungkin tamat, dalam pikiran, jiwa, dan batin para pejabat. Dalam sistem sosial yang paternalistik ini, kematian akal sehat akan merembes dengan mudah melewati tingkat-tingkat piramidal tadi, sehingga kita –rakyat jelata—bukan saja melakukan hal yang sama, bahkan turut merayakannya.

Hal utama lainnya, kita mafhum kini, tidak ada gunanya bicara dengan pikiran sehat, jernih, apalagi akademis pada kalangan itu.Bagi mereka common sense tiada, common people binasa. Akal sehat, Bung, sekali lagi saya tegaskan, sudah tutup usia. Jadi tiada lagi makna atau perlu banyak bicara dan berargumentasi –sejenius apa pun—sebab tiada guna. Kita harus belajar menggunakan cara lain, mungkin cara baru, yang tidak membutuhkan akal hebat di dalamnya.

Kita harus bicara pada hatinya, dengan keyakinan mereka masih memilikinya. Menyentuh kepekaannya pada kenyataan ribuan dan jutaan yang tak cuma mencibir tapi juga melaknatnya. Apakah Anda, pemimpin, sekhianat dan selaknat apa pun, tidak pernah tahu kekuatan ma’af dan tobat? Apakah Anda masih dapat nyaman, sekalipun bergelimang harta dan kuasa, bila satu bangsa –bangsa Anda sendiri—menghina Anda? Untuk apa hidup dan perjuangan Anda di dalamnya jika kemudian berakhir nista? Tengoklah hatimu. Mohon ma’aflah pada dirimu, anak istri, keluarga besarmu dan rakyat negeri ini. Dan kembalikan jabatan, amanah dan fasilitas yang sebenarnya sudah tak berhak kau miliki lagi tu.

Mungkin, rakyat Indonesia yang pema’af dan permisif ini, justru akan terhibur dan lega lalu menghargai “kekesatriaan”, walau terlambat dan rendah levelnya itu. Kekayaan, usaha, juga kemasyhuran sudah cukup untukmu menciptakan ketenangan, tidak hanya pada bangsa ini, tapi juga kerabat dan handai taulan. Apalagi kamu bisa membantu siapa pun yang tengah membangun dan mengembangkan diri di negeri ini. Itu sebuah kemuliaan. Itulah sejatihnya karaker bangsa ini yang bahari, yang terhormat dan disegani karya karena kemaslahatan perbuatannya. Bukan sebaliknya.

Bukan sebaliknya, wahai Saudara pemimpin. Dan bila dialog hati ini tetap tak bisa menyentuhmu, yakinlah kamu, pemimpin, sesungguhnya kamu sudah bukan manusia, atau kehilangan semua kemuliaan dan keilahian manusia yang terberkah dalam dirimu. Bila begitu, sebaiknya jangan kau hidup lagi di sini. Negeri dan bangsa Indonesia, sejak ribuan tahun sejarahnya, menolak orang seperti itu menjadi bagiannya.

Komentar