MAKA BACA DAN TULISLAH!

Selain banyak hal yang tidak mengesankan, ada satu yang cukup kuat menancap ingatan semasa saya duduk di kelas tiga es em pe. Di masa itu, saya merasakan patah hati untuk pertama kali. Di awal masa itu, saya definitif keluar dari rumah dan hidup “berjuang” sendiri. Di masa itu pula saya menikmati kegelisahan luar biasa atas pertanyaan aneh, “siapa sebenarnya saya ini?”

Tapi dari semua, yang paling tidak mengesankan adalah saat wali kelas, Pak Subroto, guru matematika yang kreatif dan cerdas, meminta saya duduk di barisan paling depan, tepat berhadapan meja dengannya. Plus, saya harus duduk bersebelahan dengan Ferdinand alias Gibon, pelajar asal Maluku, yang hampir setiap hari mengganggu dan mengajak saya berkelahi.

Saya protes. Tapi Pak Subroto berkeras. Dengan masam dan rasa tak puas, saya pun duduk bersama “musuh terbesar” itu. Dan demikianlah kejadiannya: tak ada waktu terlewat bagi teman sebangku itu untuk tidak meneror dan menciptakan ancaman-ancaman yang –ia harapkan—membuat saya takut. Tapi saya tidak takut. Saya kesal dan benci.

Untuk membalas tantangannya berkelahi? Saya sungguh tak berminat. Karenanya, saya diam saja, saat ia selalu meminta saya memperlihatkan hasil pekerjaan saya, baik waktu latihan atau ulangan umum. Ia pun menyontek dengan bebas. Semua dibarengi dengan ancaman, ledekan, hingga pukulan-pukulan kecil ke tubuh saya.

Tak tahan dengan itu, saya lapor sekali lagi ke wali kelas. Guru yang sederhana, lucu dan mudah tertawa itu, lagi-lagi, tertawa saja. “Terus bagaimana, pak?” Saya mendesak. Sang guru hanya membuka kacamatanya, memandang saya sejenak, katanya, “Tulis! Tulis saja itu, serahkan ke saya nanti”, lalu ia kembali sibuk bekerja.

Saya tak bisa berbuat lain. Tapi mengerjakan apa yang diminta guru yang sungguh hati saya kagumi itu. Jadilah saya tulis kisah bersebangku dengan musuh besar. Sebuah cerita yang hanya memancing senyum Pak Broto, dan ia malah kemudian mengatakan, “Terus, kamu duduk di sebelahnya.”

Berbulan jalan, akhirnya saya lihat Ferdinand mulai tergantung pada saya untuk setiap hasil pekerjaan pelajaran. Nilainya meningkat. Ia agak berubah sikap. Sampai kemudian saya menyatakan tegas padanya, “Saya kasih tahu kamu hasilnya, tapi jalannya kamu cari sendiri.” Musuh besar itu monyong mulutnya. “Kalau tidak?” katanya. “Kalau tidak, jangan harap dapat apa-apa dariku. Biarpun kau hajar aku sampai mati.”

Akhirnya, sang Gibon terpaksa menerima kondisi itu. Ia kini bekerja keras memikirkan jalan dengan hasil yang sudah saya beritahu. Untuk itu ia beberapa kali bertanya, bahkan mengajak saya ke rumahnya untuk belajar bersama. Akhir cerita, Ferdinand yang dua kali tidak naik kelas, lulus dengan angka baik dan berhasil masuk salah satu SMA Favorit di Jakarta, SMA 9 Bulungan, sementara saya masuk di sekolah tetangganya, SMA 11. Kedua sekolah itu setahun kemudian bergabung menjadi SMA 70 Bulungan, Jakarta Selatan.

***

“TULIS! Tulis saja.” Kalimat itu seperti mantra sakti untuk saya. Kata itu pula yang membuat saya memasuki dunia kepenulisan, sebagai pengarang dan sebagai wartawan. Adalah almarhum Valens Doy, wartawan olahraga terkemuka Indonesia, yang –entah kenapa—di suatu hari mengajak saya ke kantornya di Harian Kompas. Mengajak saya, yang juga masih awal SMA kala itu, pergi meliput, memperkenalkan dengan banyak tokoh olahraga, menonton pertandingan dan mengajari teknik-teknik permainan di lapangan (bola, bulutangkis, tenis dan sebagainya).

Sampai saya mendapat pengalaman, mendengar pemain bulutangkis kita kasak-kusuk tentang perpindahan pemain ke luar negeri, saat berlangsungnya kejuaraan Asia di Istora Senayan, 1980. Saya ceritakan itu malam harinya pada bang Valens. Sambil tertawa (ini memang kegemarannya), wartawan kosen itu berseru, “Tulis itu, Reza (nama samaran saya sebagai penulis dulu)!”

Saya menulis dan memberikannya segera pada Valens yang baru saja diangkat jadi editor. Esok paginya saya terkejut, ketika tulisan itu muncul di halaman olahraga Kompas dengan inisial “Reza” sebagai penulisnya. Itulah tulisan pertama saya di koran: karir jurnalistik koran saya dimulai. Honor yang lumayan pertama saya terima, sehingga masa SMA saya cukup kaya dengan penghasilan sendiri. Berlanjut hingga lebih 20 tahun kemudian.

Sebagai pengarang fiksi, jauh tahun sebelum itu sudah dimulai. Saat saya kelas IV SD, di Gandaria Jakarta Selatan. Sebagai anak keluarga tak berada, saya kerap melihat penagih utang datang. Hanya untuk memaki-maki dan menyumpahi orangtua saya yang masih belum bisa bayar. Hingga pernah, begitu kuatirnya saya kalau ibu akan dicelakai oleh dua orang penagih utang, saya mengambil pisau di dapur, sembunyi di balik pohon nangka, dan bertekad akan menyerang penagih utang itu jika sampai ibu mereka bikin celaka.

Tak terjadi apa-apa memang. Penagih utang itu pergi dengan bersungut sambil tetap menyumpah. Saya gemetar di balik pohon nangka dengan pisau telanjang di balik tubuh. Berhari-hari peristiwa itu tidak hilang dari pikiran. Hingga kemudian, entah darimana datangnya, pikiran timbul, “Kenapa tidak ditulis saja.”

Maka saya tulis kisah itu dengan segenap hati. “Tamu Tak Diundang”, judulnya. Berhubung tiga kakak lelaki saya saat itu sudah jadi pengarang di berbagai media, seperti Kuncung, Kawanku, bahkan Kompas. Saya pun coba mengirimkan kisah itu ke halaman anak-anak Kompas yang terbit tiap Rabu. Dan ternyata harian itu memuatnya. Saya tak tahu bagaimana menggambarkan perasaan saya kala itu. Terpana. Itulah saat pertama saya masuk ke dalam dunia, yang kemudian menenggelamkan saya, hingga saat ini. Dunia sastra.

***

CERITA-cerita pribadi di atas mengajarkan satu hal pada saya: penulisan terbaik yang pernah saya lakukan, kebanyakan berasal dari situasi atau pengalaman yang langsung saya alami secara intens. Dari hasil pengamatan, pergulatan atau keterlibatan saya secara penuh dan empatik dalam sebuah peristiwa di sekitar hidup saya. Pengamatan ini, pada kemudian hari saya ketahui, merupakan sebuah kapasitas atau kapabilitas dalam “membaca” sesuatu, peristiwa, kisah, dongeng, atau buku, atau teks tepatnya.

Kegiatan menulis pun menjadi sebuah kegiatan lanjutan yang tak terhindarkan, hampir menjadi disiplin (bahkan rutin) otomatis, yang menyusul kegiatan membaca saya, pada apa saja. Baik yang bersifat spiritual, intelektual maupun fisikal. Keduanya tak terpisahkan, bahkan saling membutuhkan, saling meneguhkan eksistensi masing-masing. Sehingga keduanya menjadi semacam penyempurnaan dalam program aktualisasi dan pada akhirnya eksistensialisasi.

Dari membaca hidup yang nyata, saya pun mulai membaca hidup yang terartifisialisasi atau terrepresentasi, melalui kata, bahasa, melalui buku misalnya. Saya baca yang sesuai dengan kebutuhan saya. Kebutuhan remaja yang mulai gelisah dengan, “siapa sih aku?”, “bagaimana menjadi aku?”, “untuk apa aku?”, dan sebagainya. Kegelisahan remaja yang wajar saat ia mengalami pancaroba dan masa disorientasi atau dislokasi yang akut.

Untuk itu, saya baca banyak buku yang berisi tentang pribadi-pribadi kuat, bersejarah bahkan mitologis. Buku-buku silat Kho Ping Hoo jadi santapan wajib. Buku-buku biografi tokoh-tokoh dunia, di bidang apa saja, saya lalap habis. Juga buku-buku sejarah yang mengisahkan bagaimana seorang besar bisa membangun sejarah besar, saya kejar kemana saja. Sampai buku-buku mitologi, Yunani, India, Cina, Jepang, Arab, dan sebagainya.

Semua sungguh mempengaruhi saya. Sampai, misalnya, pola tidur dan pola kerja yang sangat dipengaruhi tiga orang: Muhammad saw, Ibnu Saud dan Winston Churchill. Dan itu terjadi hingga hari ini. Saya bermain silat malam hari untuk menjadi pahlawan negeri; mencintai wanita begitu romantik dan platonis, tanpa pamrih,seperti kata Kho Ping Hoo; dan menuliskan puluhan lembar catatan yang ditempel di dinding tentang nabi-nabi bernama Sokrates, Lao Tse, Konfucius, Plato, Phytagoras, Siddarta Gautama, atau Aristoteles.

Saya membaca dan menulis, membaca dan menulis, membaca dan menulis. Dengan menulis saya akan menemukan banyak pertanyaan baru, kegelisahan baru, yang hanya dapat dilerai dengan membaca. Saya membaca hingga menumpukkan banyak kesimpulan-kesimpulan tentatif, postulat atau pendirian-pendirian hidup yang mesti dituang ke dalam tulisan. Begitu seterusnya.

Pulang sekolah atau lepas magrib menjelang hari libur saya keluar, bermain.Tepatnya lebih sering tiduran di atas dedaunan kebun ubi, memandang keluasan langit. Duduk di pinggir kali Krukut yang coklat, atau nongkrong di tepi jalan raya melihat kereta api atau kendaran berseliweran.

***

DENGAN itu semua saya kemudian berpikir sederhana: kegiatan membaca harus dimulai dari proses membaca pengalaman atau kejadian sehari-hari dalam hidup kita. Dan kemudian ia harus dilanjutkan dengan proses menulis, proses menceritakan kembali yang sebenarnya menjadi bagian dari cara kita mengekspresikan diri dalam mereaksi pengalaman atau kejadian sehari-hari itu.

Proses pertama dan kedua yang berkelindan menjadi semacam kegiatan siklik ini tentu tidak harus dipahami secara leksikal. Proses pembacaan itu dapat berlangsung dalam berbagai cara dan bentuk. Tergantung kebutuhan dan media yang ada. Kebutuhan akan buku, misalnya, tergantung pada ketersediaannya juga pada pilihan konten yang ada. Jika kedua faktor dianggap tidak kurang atau tidak mencukupi kebutuhan seseorang (anak), tidak harus menghentikan proses pembacaan yang semestinya terjadi pada orang (anak) itu.

Begitupun proses menulis (menceritakan kembali/berekspresi) tidak selalu harus dikaitkan dengan kertas dan pena. Karena proses tersebut bisa dilakukan secara lisan (karena mungkin anak itu lebih berbakat menjadi aktor atau orator) atau bentuk-bentuk eskpresi lainnya (sesuai dengan kecenderungan, potensi atau bakatnya). Yang jelas keduanya berlangsung dalam kesinambungan, hingga seseorang (anak) merasa ia mengalami aktualisasi hingga ia sadar bahwa ia “ada” di tengah komunitasnya.

Di tengah-tengah itu mungkin dibutuhkan masa kontemplasi atau meditasi, dimana seorang anak melupakan kedua hal tersebut, dan hanya sibuk dengan satu kegiatan tertentu (bermain), melamun, apa pun. Karenanya, dibutuhkan sangat jatah waktu dimana seorang anak dapat melepaskan diri dari telikungan apa pun yang selama itu terasa membelenggunya.

Terlebih di masa mutakhir ini, dimana pola atau sistem pengajaran kita yang lebih mementingkan kemampuan kognitif dalam mengingat dan menyelesaikan masalah di atas kertas. Keterkaitan semua pelajaran itu pada hidup yang sesungguhnya menipis, ketika beban pelajaran begitu berat, dan waktu bersekolah kini begitu ketat (belum dengan kursus ini-itu, kegiatan hiburan, dan sebagainya).

Sementara jatah waktu bermain kini dihabisi di ruang-ruang kamar yang sudah dipenuhi oleh perangkat-perangkat teknologis, yang menyajikan dunia irreal, virtual bahkan hologramis, menggantikan sentuhan langsung pada air, daun, atau kotoran tanah. Pendidikan harus memaksakan dirinya untuk melawan kecenderungan zaman yang hebat itu dengan mengajak kembali para murid pada, misalnya, kemampuan-kemampuan dasar, alamiah dan intuitifnya. Membaca dan menulis.

Dalam hemat saya, lebih baik seorang anak mengetahui lebih sedikit tapi mengalami secara intens substansi pengetahuan itu dalam praksis kehidupannya sehari-hari. Ketimbang mengetahui banyak namun ia tinggal menjadi sesuatu yang abstrak, bahkan absurd ketika di kemudian hari ia kesulitan mencari konteksnya dalam realitas kekiniannya.

Mungkin untuk itu, beban pelajaran yang menumpuk mesti dikurangi, diganti dengan pengalaman keluar sekolah, dan memberi pelajaran (dengan konteks) di tengah hutan, keramaian kota, atau dinginnya air sungai. Menarik seorang anak keluar dari rumah untuk “berkelana” dengan caranya sendiri, bersama teman-teman sepergaulan rumahnya. Memberinya jatah waktu minim untuk menikmati televisi, play stasion, atau bacaan-bacaan yang mengaburkan nilai-nilai.

Belakangan ini, bacaan anak-anak dan hiburan digital, menampilkan tokoh-tokoh yang abu-abu dan kabur dalam standar nilainya. Mulai dari Sinchan, Spongebob, dalam hiburan digital, komik, atau roman, hingga tokoh-tokoh dalam gamegame virtual, menawarkan cara pikir dan berperilaku yang menafikan standar-standar nilai dan moral. Sebagaimana hal itu memang menjadi gejala yang kian universal.

Namun dalam perkembangan di masa dininya, seorang anak akan lebih bisa memosisikan dirinya di masa kemudian, jika sejak mula ia mendapatkan kejelasan tentang etika, nilai atau norma-norma hidup yang mesti ia bela atau ia lawan. Sampai ia kemudian mengetahui bahwa dunia ternyata mulai menolak kejelasan itu. Di saat itu, ia akan lebih tahu bagaimana cara menyikapinya. Bukan kerancuan permanen yang ia derita. Semacam permisivitas pada kesalahan yang berlaku umum, seperti kita mendiamkan seseorang yang sudah divonis bersalah tapi tidak mau mengakui kesalahannya. Bahkan tetap menerimanya sebagai pemimpin. Seperti saat ini.

***

MUHAMMAD saw adalah satu-satunya nabi yang menerima wahyu dengan pesan aneh. Bukan soal peristiwa besar atau aturan tentang masyarakat, tapi sebuah perintah yang sama sekali ia tak mengerti karena tidak dapat ia jalankan. “Bacalah!” demikian perintah pertama untuk nabi terakhir itu.

Hingga tiga kali perintah Tuhan itu ditegaskan penyampainya, baru sang nabi menerimanya dengan baik. Sebuah penerimaan dengan pengertian bahwa menjadi manusia tidak akan berarti apa-apa tanpa kemampuan “membaca”. Membaca apa saja. Membaca bagi siapa saja. Tidak surut oleh mereka yang miskin dan papa. Tidak susut bagi mereka yang sama sekali buta akan aksara.

Dimana pun, kemana pun, kapan pun, manusia sebaiknya membaca. Sebuah kegiatan dasar, yang semestinya dikembangkan menjadi naluri atau insting kemanusiaan. Mungkin seharusnya kodrat manusia harus ditambah sebagai manusia-membaca, hommo rĕcĭtätus, atau man of read, untuk menegaskan: keberadaan atau eksistensi manusia ditentukan pula oleh kemampuannya membaca.

Saya, orang kecil ini, hanya ingin menambahkan di sesudahnya, “tulislah!”. Apa yang sudah (selesai) Anda baca. Karena dengannya lengkaplah kemudian kemanusiaan kita. Membaca, mendapatkan pengetahuan, dan menulis, mendistribusikan atau menciptakan pengetahuan. Dengan itu adab serta budaya berlangsung. Mengalami kemajuan.

 

Jakarta, November 2007

Komentar