Kebenaran dan Dusta dalam Sastra

Judul buku : Kebenaran dan dusta dalam sastra; penulis : Radhar Panca Dahana; Magelang : Indonesia Tera, 2001.

RADHAR Panca Dahana, 36 tahun, termasuk penulis ekstra rajin. Ia tidak hanya bermain di penulisan kreatif seperti puisi atawa cerita pendek, melainkan juga memasuki wilayah kritik dan esai. Beberapa karyanya sudah dibukukan. Misalnya tilikannya terhadap teater dalam Ideologi Politik dan Teater Modern.

Dia juga getol mengulas sisik melik sastra Indonesia, seperti yang termuat dalam Kebenaran dan Dusta dalam Sastra ini. Kumpulan ini memang lebih banyak dimuati tulisan lama. Dari 35 tulisan, hanya satu yang digubah pada tahun

2000, yaitu Sejarah Sastra Menuju Pembaca. Lainnya berasal dari kurun 1990-an.

Akibatnya, beberapa tulisan terasa “kurang kini”, apalagi bila dikaitkan dengan relevansi aktual. Misalnya tulisan tentang majalah Horison. Karangan itu dibuat ketika berembus isu majalah sastra tersebut akan dikelola Goenawan Mohamad, delapan tahun silam. Meski begitu, tak serta-merta berarti tulisan tersebut usang -terutama dari aspek dokumentasi.

Beberapa tema yang diangkat Radhar masih jadi perdebatan hingga kini. Misalnya soal periodisasi sastra, atau posisi pengarang yang jadi arus utama dalam perjalanan sastra. Tak sekadar menampilkan ulasan teoretis, buku ini juga mempertemukan kita dengan tulisan yang mengarah pada apresiasi. Misalnya ketika Radhar menyoroti penyair Afrizal Malna, yang menawarkan pengucapan baru.

Sebagai seniman yang terkenal suka bicara blak-blakan, Radhar tak canggung mengkritik puisi Apa Gunanya PBB, karya Slamet Sukirnanto, yang disebutnya sebagai “sastra sabun”. Puisi itu hanya dua baris: Bagi Muslim Bosnia/Apa gunanya PBB.

“Saya merasa aneh puisi dua baris itu bisa diciptakan penyair yang mantan anggota DPR/MPR, Jaksa Pengadilan Puisi, dan anggota DKJ,” tulis Radhar. Adapun untuk genre cerita pendek, Radhar secara khusus menyoroti karya-karya cerita pendek Arie M.P. Tamba lewat tulisan Keseharian dengan Kesabaran Sysyphus.

Hidayat Tantan

Gelak esai & ombak sajak anno

SUDAH setahun Sutardji Calzoum Bachri bertindak sebagai “penghulu puisi” di lembaran “Bentara” harian Kompas, yang terbit tiap Jumat. Rubrik yang diasuh Tardji -demikian budak Riau itu biasa dipanggil- ternyata mendapat respons besar, bahkan sejak awalnya. Setiap bulan, ratusan sajak setia berduyun-duyun menanti giliran dimuat.

Penulisnya segala rupa, mulai yang senior sampai pada yang masih mencoba-coba. Di lembaran itu berjumpalah kita dengan Abdul Hadi WM, Danarto, Dorothea Rosa Herliany, Soni Farid Maulana, Joko Pinurbo, Sitok Srengenge, sekadar menyebut beberapa. Tardji memperlakukan mereka sama belaka. Tiba-tiba, misalnya, terselip nama Putu Vivi Lestari, pemula berusia 19 tahun.

Tak canggung Tardji menyebut pendatang baru ini sebagai penyair muda berbakat kuat dan bakal memperkaya khazanah perpuisian Indonesia di Bali, bersama para penyair pendahulunya: Umbu Landu Paranggi, Warih Wisatsana, Putu Fajar Arcana, dan Nanoq serta Kansas. Sajak-sajak pilihan itu kini dikumpulkan dalam Gelak Esai ini.

Tardji biasanya tak membiarkan puisi-puisi itu melenggang sendiri. Ia mengantar dengan esai pendek. Tapi, esai itu sendiri tak selalu “kontekstual” dengan puisi yang dimuat. Kadang lebih terasa “jazzy”, misalnya tiba-tiba bercerita tentang jerih payah penyair A. Hamid Djabbar memasang kabel notebook di atas kereta api yang meluncur ke timur….

Umumnya, tema esai beragam, mulai soal komunitas sastra sampai masalah perdebatan angkatan yang tak pernah sudah. Gayanya jauh dari kesan menasihati. Beberapa bagian dari artikel itu, menurut Tardji, memang sengaja ditulis dengan aroma gelak tersembunyi. Katanya sengaja untuk mengusir kesedihan karena telah menolak pemuatan seuntai sajak.

Ketika mencoba mendorong para penyair muda untuk jadi dirinya sendiri, Tardji menulis, “Jika engkau makan kambing, lantas menjadi kambing, tentu ada sesuatu yang tak wajar dari dirimu.” Bahkan salah cetak, yang sering disebut-sebut sebagai musuh utama seorang penyair, bagi Tardji justru sebaliknya. “Gembirakanlah dirimu dengan salah cetak,” tulis Tardji.

Sumber: Majalah Gatra

Komentar