Buku Baca Buku

Ibu,

Kau adalah buku yang belum habis kubaca

 

Rasanya ingin menangis. Mengingat betapa susah dahulu aku mendapatkannya. SMA kelas dua, waktu itu, sudah hampir setahun aku mencarinya. Akhirnya berhasil kudapat informasi, sebuah tempat dimana aku bisa mendapatkannya. Dua kali salah masuk, akhirnya kutemukan tempat itu. Sebuah rumah sebenarnya, namun bagian depannya, seukuran 4 X 5 meter dibuka. Seseorang, keturunan Cina tampaknya, tampak tengah bebersih.

Aku harus menggunakan strategi, berlagak menanyakan hal lain, untuk akhirnya sampai pada pertanyaan itu juga, “Katanya, ngkoh punya madilog ya?” Lelaki setengah baya berkaus singlet itu menghentikan langkahnya, dan menatapku seksama beberapa lama. Lalu ia kembali sibuk dengan alat pengusir debunya. Aku paham. Tentu ia perlu waspada, karena bisa saja aku ini sejenis kibuz, alias kaki busuk, yang masa itu memang tersebar dimana-mana.

Aku mendekatinya, buang obrolan satudua yang menyenangkan. Kuberi ia waktu untuk menilaiku, sampai akhirnya pertanyaan yang sama kuajukan lagi. Lelaki itu sedikit menghela nafas, namun akhirnya berkata, “Cuma satu-satunya.” Kesulitan baru lagi. Tapi mana aku mau sudah. Kutanya habis berapa harganya. Ia menyebut angka sekitar 200 ribuan. Dan aku mengeluh. Mencoba menawarnya, merayunya. Ia bergeming di angka 150 ribu.

Dua kali lagi aku kembali ke sana, ke toko khusus buku-buku tua di perempatan Senen, Jakarta Pusat itu, dengan kekuatiran buku yang lama kucari itu telah terjual. Tapi memang nasibku baik, atau mungkin si engkoh tak tega melihat anak kencur ini tak habis meminta. Buku masterpiece Tan Malaka, bersampul keras biru tua itu akhirnya kudapatkan, dengan harga Rp. 50.000,-, honor tiga buah cerpenku di majalah remaja kala itu.

Memang bukan buku langka yang hebat benar. Tapi kala itu orang memang harus hati-hati mendapatkannya, ditambah rasa hausku yang tak tertahan pada buku itu, membuatnya jadi sangat bernilai untukku. Kini, limabelas tahunan setelahnya, atau sepuluh tahun yang lalu, buku itu raib. Betapapun karya Tan Malaka hari ini seperti novel picisan atau buku masakan, terpampang dimana-mana, aku merasa kehilangan itu membolehkanku untuk “ingin menangis”.

***

TAPI Madilog bukan kasus satu-satunya. Selama aku mengonsumsi buku secara personal, sejak kelas satu es em pe, kukira lebih dari 600-an judul buku yang raib dari rak-rak penyimpanannya. Aku tahu siapa vandalis-vandalis itu. Semua teman-temanku juga. Yang datang sekadar ngobrol, menginap semalam dua, atau untuk menetap untuk sekian lama. Rak yang terbuka bagi siapa saja itu, memang seakan piring dengan sup hangat di tengah hujan.

Ada yang mengambil satu-dua, ada yang rekor hingga 12 buku masuk ke dalam tasnya. Hebatnya, mereka kenal betul mutu buku. Satu set karya Tolstoy, misalnya, sekitar 14 buah, tertinggal satu. Begitupun set-set buku pengarang Rusia lainnya, macam Gorky, Dostojevsky, Chekov (yang dahulu bertimbun di pasar buku bekas, karena kata seorang penjual, orang kedutaan Rusia yang mendropnya, kadang sampai satu metro mini), dan lain-lain tinggal satu-dua.

Begitupun dua edisi tetralogi Pramoedya cetakan awal, tak tersisa. Serial buku Fidel Castro, Mao Tse Tung, Lenin, dan Stalin, tak berbekas. Dua edisi “Di Bawah Bendera Revolusi” Soekarno, jilid 1 & 2, hingga nama-nama top lainnya macam James Joyce, Hemingway, Arthur Miller, George Orwell ( yang “1984”-nya harus kubeli hingga 4 kali), alhamdulillah sudah berada di tangan yang (semoga) tepat.

Aku berpikir, apa memang bukan milikku buku-buku itu? Atau sesungguhnya ia tidak tepat untuk orang sepertiku? Atau “kriminalisme” ala Chairil ini memang sudah jadi gaya? Atau memang sudah saatnya buku berpindah pemilik, setidaknya ke mereka yang jauh lebih membutuhkan? Aku membutuhkan waktu cukup panjang untuk menjawabnya.

Ia mulai tersusun saat mataku sudah terlalu letih dan terus berair karena membaca. Aku meletakkan buku di sisi, merebahkan tubuh dengan bebas dengan elahan panjang nafas. 15 menit hingga 1 jam sebelum tertidur, semua yang terbaca barusan seperti berputar di kepala secara acak. Pengertian-pengertian yang lepas satu-satu, kata-kata muncul bergantian, hingga cetakan huruf, seperti tengah menggodok satu hal lain, satu pengertian lain: sebuah pengetahuan. Di saat itu aku membaca yang lain, membaca sesuatu di sisi luar bacaanku, membaca dunia baru: buku baru.

Ternyata, ada buku lain dari sebuah buku. Dan betapa luar biasa buku-lain itu, lebih lapang, lebih dalam, bahkan lebih mengasyikkan. Tentu saja, kerap pula lebih rumit, lebih memusingkan, bahkan membuat frustrasi. Pada saat itu, aku akan coba mendapatkan “buku-lain” dari buku-lain tadi. Yang bisa saja kudapat dari alam imajinerku, bisa saja dalam kamar kerjaku, di keseharianku, di terminal, kantor, ruang seminar atau dalam diri istriku.

Buku yang terdahulu boleh hilang, tapi buku-lain –boleh jadi jauh lebih bernilai—kita dapatkan. Buku-buku raib itu seperti mengatakan secara imperatif padaku: aku boleh tiada, tapi kau tetap harus membaca. Ya, membaca. Membaca semua buku yang ternyata begitu bertumpuk di seputar hidup kita. Hidup dan semesta yang mengelilinginya adalah perpustakaan yang sesungguhnya.

***

MAHA-pustaka itu memang takkan pernah habis kita membacanya. Bahkan untuk satu buku kecil bernama “Ibu”, “belum juga habis kubaca” (puisi karya Rick A. Sakri). Dalam hidupku, bahkan sebuah makhluk kecil, gemuk, botak, bernama Cahaya, lebih sudah delapan tahun (usianya) aku masih terus tekun membolak-balik halamannya, membacanya.

Betapa mulia kubayangkan, perintah aneh yang harus pertama kali diterima oleh Muhammad saw yang buta aksara, adalah: “bacalah!”. Membaca manusia, yang tak habis kita maknai, walau ia hanya “segumpal darah”. Membaca (k)alam demi sesuatu yang belum kita ketahui. Dan itulah fitrah manusia pertama, yang membedakannya dari makhluk atau entitas lainnya: “aku membaca aku ada”.

Kegiatan mulia ini sesungguhnya secara internal ada dalam diri tiap manusia, begitu ia kali pertama mencium bau dunia. Ia membaca. Tapi aktivitas instingtif itu tak akan memberi banyak makna jika ia tak diaktifkan lewat sebuah pembudayaan. Sebagaimana insting mencari makanan, berlaku seksual, atau juga bertindak sosial. Pembudayaan membuat manusia mengalami perkembangan, memiliki kemajuan, yang tak hanya natural tapi juga nurtural.

Sekumpulan kertas tercetak dan terjilid adalah artifisialisasi dari pembudayaan itu. Sebagaimana wahyu akhirnya menjadi kitab, menjadi hadits. Yang menyadarkan kita, tanpa membaca kita akan gagal jadi manusia. Walau ternyata, “manusia itu memang melampaui batas”, “karena ia melihat dirinya kaya”. Memandang dirinya berpengetahuan sebelum membaca. Merasa dirinya semesta, sebelum jadi manusia.

Dalam kamar yang cukup panas ini, dimana rak-rak putih-coklat yang menjejer rapi buku-buku di dalamnya, aku tersenyum kecil. Kecut sebenarnya. Rak-rak dua meteran itu, ribuan judul buku itu, seperti mengkerut, menciut, mengecil, keciiil sekali…hingga ia tinggal menjadi sebuah noktah. Sebuah titik mengambang di ujung pandangku, saat ia kuletakkan dalam sebuah ruang dimana semesta ada di dalamnya.

Dan aku tahu, manusia, apalagi cecunguk seperti aku ini, cuma sebutir noktah di dalam titik yang mengambang itu. Dan kalau aku bisa melihat itu, sebenarnya hanya satu yang kulakukan untuk itu. Membaca.

Komentar