Airmata Umara, 1*

apa yang tersisa dari kemenangan?
anggur, pesta, dansa, wanita
salam, jabat tangan, dan harapan?
rasa syukur, puas, bahagia,
harta, kesempatan, dan kekuasaan?
dusta … dajjal itu semua

kemuliaan sebuah kemenangan
hanyalah amanah, kepercayaan
yang sisa: sepi, kepercayaan
dan airmata …

kenapa aku Kau pilih?
mengapa aku kalian percaya?
betapa rapuh dan lemah
dan hebatnya dengan kelemahan
manusia satu ini.
betapa berat sebuah percaya

betapa padat batu di kepala
di mana nyawa, jiwa, perut, rumah,
jalan raya, panen, dan harapan mengeras
memberat di dalamnya.

kemenangan adalah kegagalanku
melahirkan panutan baru
mengasah baja semua yang muda
hingga si tua bungkuk dan terbatuk
masih ditanami masa depan
masa yang mestinya subur
di kebun pikiranmu, yang
harusnya terang di matahari
jiwamu, anakku.

airmata … airmata ini
dalam sujud maafku
dalam zuhud hidupku
adalah tiga perempat hidup
tiada guna:
rakyat yang manja, pemuda terlena
semua terpenuhi, segala tercukupi

tapi bukan sejahtera kudapat
bukan masa depan kutambat
bukan jiwa merdeka, bukan semangat
membara … melainkan melulu nikmat
gairah terhela, lengah yang mewabah
dan kemandirian yang sirna.

aku menangis …
untukmu Tuhanku.
kakek ompong, peyot
dan tak berdaya ini
masanya berkhalwat
sekujur tubuh bertaubat
menyalin waktu dalam shalat
kepadaMu, aku mendekat
biar jadi bekal utang duniaku
menujuMu, menuju bilik kecil
di semesta istanaMu.

Tuhanku,
maafkan doaku
meminta waktuMu lagi
menunaikan amanah ini
menuntaskan sisa waktu
memanggul segunung batu
ke hari seberang semua orang
biar nyawa jadi arangnya
biar anak-istri jadi minyaknya
izinkan rakyatku menjelma dirinya
yang perkasa, menjadi umat yang kuat
dan mencipta bangsa yang berharga.

bersamaku,
makhluk yang renta
dan tak berdaya.
segala yang mulia,
hanya untukMu.

 

*Puisi ini dimuat dalam buku antologi puisi “Manusia Istana: Sekumpulan Puisi” karya Radhar Panca Dahana, Cetakan I: Maret 2015, Penerbit: PT Bentang Pustaka, Yogyakarta.

Komentar