Absurditas Sebuah Negeri

Setiap bangun pagi, saya selalu mengharap mimpi buruk terjadi hanya pada saat saya tidur, bukan di masa hari terang saat saya harus menjalani rutin kehidupan. Itu bukan do’a, sekadar harapan. Masak saya harus “merepotkan” Dia hanya untuk harapan sederhana namun begitu penting bagi saya pribadi, mungkin juga pribadi-pribadi lain.

Tapi apa yang kemudian terjadi? Ternyata, hidup keseharian yang harus saya alami, hidup yang dihiasi oleh suara indah Adele atau melodi ajaib Jason Derulo dan “politik kasar”nya Donald Trump ini, tidak hanya berisi satu-dua tapi sejumlah besar mimpi buruk. Hampir di tiap langkah kaki maupun pikiran saya. Bukan saja persoalan anak 13 tahun yang menghujamkan obeng ke belakang leher ibunya sendiri karena salah membelikan telepon selular, anak 12 tahun mencekik neneknya sendiri sampai mati karena bosan diperintah berhenti main game, seorang bapak yang menggauli tiga anak kandungnya sendiri bertahun-tahun hingga hamil beberapa kali, atau…ah, tak mampu saya mengulangi lagi peristiwa-peristiwa yang sudah melampaui imajinasi dan fantasi terburuk saya, bahkan sebagai pengarang fiksi.

Belum lagi serbuan berita hard maupun soft di berbagai genres media massa yang memberitakan betapa konyol, dungu –mungkin imbesil—atau tak beradab para elit, mulai dari eksekutif hingga legislatif maupun anggota mahkamah tinggi (judikatif). Mereka yang diberi amanah menjaga konstitusi, bahkan menelurkan berbagai regulasi atau undang-undang bagi ketertiban publik, ternyata justru pengkhianat paling hebat dari konstitusi dan amanah publik itu. Mereka, secara individual maupun komunal, memporak-porandakan bangunan kenegaraan dan kebangsaan yang dengan keringat, darah juga airmata diperjuangkan para pendahulunya.

Ketika adzan panggilan Jum’at bertalu dan saya berjalan gontai, letih jiwa dan batin, suara pengkotbah menjadi janji air sejuk bagi kegersangan pikiran. Namun apa yang terdengar? Seusai mengucapkan salam dan doa bagi para jema’atnya, sang pengkotbah memulai ceramahnya dengan, “Jadi, sidang Jum’at yang berbahagia, hasil putaran pertama kemarin, menunjukkan bagaimana kandidat gubernur nomor…”. Dan hingga akhir kotbahnya, sang penguasa mimbar 100% melulu bicara politik, plus ajakan bahkan intimidasi di akhir pidatonya, “Maka bapak ibu, jangan lupa tanggal….jangan salah pilih…”. Dst.

Tak ada ujaran kesejukan, nada yang halus, kutipan sejarah atau kitab suci yang memberi ajaran moral atau etika, tak ada agama. Agama tinggal stempel di mimbar atau simbol-simbol fisikal di tubuh. Agama menjadi sekelompok anak tanggung yang diperintah membelah jalan raya dengan kursi dan kardus meminta sumbangan. Agama menjadi masjid yang terkunci, hingga musafir tak bisa berteduh, istirahat, atau sekadar mengharap pelepas haus atau sedikit bantuan. Masjid-masjid megah menjadi ballroom untuk pesta perkawinan mewah, bahkan kadang lengkap dengan organ tunggal, sehingga tak memungkinkan seseorang beri’tikaf di dalamnya. Agama adalah billboard besar di jalan masuk perumahan mewah dengan gambar rumah kecil di atas awan, dan kalimat agitatif: “Ternyata rumah di surga lebih murah dibanding rumah di Pondok Indah”. Lalu diakhiri oleh seruan: “Donasi untuk kurban, jangan ditunda lagi!”.

Apa sebenarnya yang sedang berlangsung, tumbuh dan kita semaikan bersama di tanah subur negeri ini? Dusta, kemunafikan, kedegilan, bahkan ilusi-ilusi yang memenuhi komprehensi dan apresiasi pada hidup yang dirizkikan olehNya? Bagaimana konstitusi yang kita terima dengan hati, bahkan kita anggap suci, tapi hampir tiap menitnya kita khianati bersama? Bagaimana agama yang kita yakini, kita jadikan tumpuan hidup di masa kini, nanti, dan “nanti”, kita kelabui demi kepentingan kelompok belaka? Bagaimana kita tidak peduli negara, sementara negara adalah bangunan dimana kita bernaung, untuk hidup dan bereksistensi? Bagaimana dasar-dasar kenegaraan, yang kita sebut ideologi, yakni Pancasila, tak satu pun silanya kita indahkan, bahkan kita mungkar padanya?

Jika hidup kita jalani dengan paradoks memenuhi hampir seluruh inci kenyataan diri kita, dan kita tidak merasa terganggu karenanya, bahkan sebagian menganggapnya hal itu sudah selayaknya, bahkan sesuai dengan “kebenaran” subyektif mereka, apakah tidak sesungguhnya kita sedang berdiam dalam sebuah absurditas, sebagai manusia atau sebagai sebuah bangsa?

Pembunuhan Pilar Kebangsaan

Lalu apa makna pernyataan hingga slogan-slogan yang mengatakan harga mati bagi “Empat Pilar” (pernyataan dan kemudian menjadi gerakan yang dimulai pertama kali oleh alm. Taufik Kiemas, Ketua MPR periode 2009-2014)? Apa pula arti ketegasan seorang pejabat: Pancasila adalah panduan satu-satunya dari cara hidup kita bernegara-berbangsa, sehingga organisasi apa pun yang melawannya harus ditentang, dilarang?

Bukankah dalam kenyataan, tak satu pun dari “Empat Pilar” itu (NKRI, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila) justru kita bunuh, kita matikan? “Harga mati” tidakkah cara berpikir justru untuk mematikan “harga” pilar-pilar itu? Sementara sesungguhnya, semua pilar itu adalah kenyataan yang terus berkembang, menyesuaikan diri dengan kenyataan-kenyataan baru, mencari dan membentuk diri dan pribadinya yang baru, tak lain tak bukan merupakan “harga (yang) hidup”?

Maka di sinilah absurditas bangsa dan negara ini menunjukkan buktinya. Ia menjunjung setingginya, bahkan membuatnya agak sakral, dengan cara tidak (pernah) mengimplementasinya. Pancasila  yang isinya dilahirkan secara kolektif dan hasil kompromi atau konsensus di antara para founding fathers, bahkan kita rayakan tiap tahun “kesaktiannya” (notabene “sakti” melulu dalam urusan mengusir komunisme, sekaligus menggulingkan pemerintahan Orde Lama), ternyata tidak pernah (lagi) membuktikan kesaktiannya itu. Bahkan sila-silanya boleh dikatakan tidak pernah terwujud alam kehidupan nasional kita, di pelbagai dimensinya (sosial, hukum, agama, politik, ekonomi, akademik, dst) sejak titik nol ia diciptakan, hingga hari ini.

Dari sejarah yang bertebar di berbagai sumber informasi, kita mafhum bersama bagaimana negeri dan negara modern Indonesia ini tidak pernah henti mengalami turbulensi akibat badai yang disebabkan oleh kerancuan, ketidakteguhan bahkan kekacauan dalam cara kita bermasyarakat dan bernegara. Gerakan radikal, separatisme, intoleransi, teror, hingga kriminalitas yang melampaui imajinasi, maupun kedegilan-kedegilan purba yang kian gila, mulai dari pelacuran, human trafficking, narkoba, perundungan, pelecehan seksual hingga korupsi massif, adalah cerita yang tiada habisnya memenuhi headlines media massa, hingga detik ini.

Pancasila pun tinggal menjadi kata-kata kering, slogan kosong, yang susah payah kita gunakan untuk menutupi hidup absurd kita. Sukarno cs, dengan segala hormat pada beliau dengan sejawat perjuangannya, tidak pernah sekalipun memberi kita preseden, contoh ideal, bahkan sekadar juklak (petunjuk pelaksanaan) atau juknis (petunjuk teknis) bagaimana mengamalkan Pancasila. Suharto penerusnya, yang puluhan tahun berusaha mengisi kekosongan itu –menurut versinya sendiri—dengan membentuk BP7 dan menjalankan program penatara P4, justru kita kritik, kita tentang habis-habisan, bahkan kita habisi hingga tewas dan terkubur sejak awal Reformasi.

Dan kini, hiduplah kita di masa, kata orang, Orde Reformasi, orde ketiga sepanjang usia republik ini. Tapi benarkah sebuah “Orde” (keteraturan/ketertiban), jika ternyata seperti di awal tulisan ini kita menghadapi hidup yang jauh lebih rumit, kompleks, hingga tak bisa terpahami dengan nalar-nalar biasa (common sense)? Tidakkah “orde” baru ini justru melahirkan banyak kebingungan, kerancuan, merajalelanya pikiran yang eklektik, intelektual yang palsu (fake) juga pemberlakuan sistem-sistem (hukum, ekonomi, politik, dsb) yang justru menghina bahkan merendahkan (ke)manusi(an)?

“Orde” baru ini adalah pemburu dan pembela kuat “kebebasan” sebagai mantra “kemodernan” –dalam berbagai wujudnya, yang sejati maupun akal-akalan—tanpa pernah disadari, bagaimana kebebasan yang kita amini seperti agama itu, ternyata adalah juga kunci pembuka kotak Pandora bangsanya sendiri. Kotak dimana tersimpan pelbagai bentuk ekspresi, kreasi atau produk kebudayaan kita yang jahil, destruktif, libido dan syahwat tanpa kontrol, dan sebagainya. Kotak yang sebenarnya selama ini dijaga dan coba dihaluskan oleh budaya-budaya tradisi kita, melalui adat istiadat hingga spiritualitasnya yang pragmatis.

Absurditas Itu

Keterlanjuran telah terjadi berkat “permainan” orde mutakhir ini. Kita seperti rumah yang mungkin berdinding, tapi tak berdaun pintu dan jendela, bahkan jangan-jangan atapnya pun telah diterbangkan taifun kebebasan. Atap yang dahulu menjadi semacam naungan-suci (sacred canopy, dalam istilah sosiologisnya) kini satu persatu gentengnya pecah, lepas, jatuh dan menciptakan lubang-lubang dimana hujan, kotoran, dan gelap malam masuk menyerbu rasa ngeri kita yang meringkuk di dalamnya.

Lihatlah media sosial misalnya, bagaimana semua acuan moral, etika hingga kebenaran akademik pun dimentahkan dengan cara sangat mudah, dengan kalimat-kalimat sederhana hingga makian sangat kasar. Semua otoritas pemegang norma-norma kebaikan dan kebenaran hancur luluh. Jangankan seorang sarjana, profesor, menteri, bahkan ulama hingga seorang presiden pun, tidak mampu menegakkan kebaikan dan kebenarann normatifnya di dunia virtual itu.

Pernyataan, karya-karya, kutbah, berita hingga seruan-seruan yang benar dan keliru, yang baik maupun palsu, yang konstruktif maupun insinuatif tumpah dalam mangkok virtual yang sama. Para penghasut jahat, dengan maksud tersembunyi, menambahkan saus sedap, sehingga membuat semua konsumen data, followers, atau bahkan produsen data pun menjadi ragu dan rancu, mengapa kebenaran adalah ketidakbaikan misalnya, dst?

Tidaklah mengherankan jika kemudian ilusi-ilusi yang membentuk kenyataan-kenyataan baru menyerbu kamar tidur hingga isi terdalam pikiran kita. Generasi milenal (“Y” dan “Z”) kian merasa nyaman dalam kehidupan entah-berentah, dunia tanpa tapal batas, yang diciptakan oleh Internet maupun Big Data dan Deep Zone (istilah-istilah yang menggambarkan dunia di luar platform Internet yang menyimpan “dunia/kenyataan” lain yang jauh lebih menggiriskan karena hampir tak terjangkau oleh kapasitas berpikir maupun teknis manusia pada umumnya).

Kenyamanan dunia virtual itu pada akhirnya akan berkonfrontasi dengan realitas yang faktual yang problematik bahkan patetik. Di sinilah keterbelahan (rupture) kepribadian hingga kemanusiaan terjadi pada generasi terbaru ini, sehingga ia mengalami kekecewaan pada realitas faktual atau tradisional. Lalu mereka menumpahkan kekecewaan itu, mengritik tiada henti, menyerapahi, bahkan sebagian melawan atau –boleh Anda buktikan kebenarannya—menjadi alasan kuat untuk menjadi “pengantin” (pemuda/remaja yang menyediakan tubuhnya untuk jihad dengan jaket-bom, misalnya, untuk mendapatkan realitas ideal sebagaimana yang pernah ia rekayasa atau nikmati secara virtual).

Maka, bila salah satu pilar kehidupan sebenarnya, agama –di samping pilar lain seperti pendidikan, praksis hukum, politis, dll—merespon situasi ini justru dengan mengeksploatasi ruang dan peluang-peluang negatif yang akhirnya mendestruksi kehidupan publik, ia menjadi tragedi terbesar bangsa ini, yang menempatkan Tauhid akan ke-Esa-an Tuhan di sila pertamanya.

Ketika seseorang yang belajar (entah agama atau lainnya) di negeri Timur Tengah menabalkan dirinya sebagai ulama setiba di negeri sendiri, seseorang yang hapal 2-3 atau mungkn 10 juz AL-Qur’an memosisikan diri sebagai Da’I atau Ustadz (yang bahkan berani meminta bayaran hingga puluhan juta untuk kemampuannya mengutip hapalan itu), atau bahkan ulama/Kyai ternyata mengabdikan dirinya pada kepentingan temporer, sektarian bahkan material, sesungguhnya bukan cuma Pancasila, bangsa, dan negara, agama pun mencapai absurditasnya di negeri ini. Produk sampingannya berupa ilusi-ilusi dalam praktik beramal-bersedekah, berdoa (bersama), hingga berserikat untuk tujuan (yang bahkan tidak religius) kian memenuhi kehidupan spiritual kita dimana-mana.

Skizofrenia Kultural

Semua itu diakibatkan antara lain oleh sebuah tradisi yang keliru. Bisa berasal dari adat lama maupun baru, tradisi ini ada dalam cara kita menempatkan dan menggunakan perangkat akal dan pikiran kita, yang ternyata fake dan menyesatkan. Sejak awal kita mengenal ilmu pengetahuan dalam bentuk saintifiknya (science), setidak sejak pertengahan abad 19, kita berjuang hingga kemudian merasa sudah menempatkan akal-pikiran dalam posisi yang dominan, sebagaimana logosentrisme terbangun di belahan Barat (Eropa Kontinental) berbasis adagium “Je pense donc je suis”, I think therefore I am, seturut filsuf cum matematikawan Prancis awal abad 17 yang dianggap Bapak filsafat Modern, René Descartes.

Bila kemudian logos (akal) atau cogito di belahan dunia Barat di sana benar-benar menjadi panglima yang meneguhkan dasar-dasar eksistensial manusia, di negeri ini, ternyata, hanya mencapai tingkat yang ilusif untuk melakukan hal yang sama, bahkan hingga masa mutakhir ini. Akal-pikiran, dengan semua produk yang dihasilkannya, ternyata tidak menjadi acuan atau panduan dari sikap atau perilaku hidup kita sehari-hari, sebagaimana rakyat Kontinental Eropa mempraktikannya lewat internalisasi intensif di dunia pendidikan mereka.

Di negeri ini, ternyata akal tidak berhasil bekerja sendiri apalagi dominan dalam mengelola kehidupan bahkan hingga di tingkat pribadi. Karena masyarakat Bahari Indonesia tidak mampu melepaskan kandungan budaya, yang sudah seperti genetik, mengendap dalam setiap sel atau pori kesadarannya: budaya rasa dan batin. Pada momen tertentu orang Indonesia akan menampilkan dirinya sebagai “makhluk modern” yang logis-rasional, positivistik, progresif bahkan materialistik. Namun di momen lain, di belakang kehidupan formalnya, mereka tetap menjalani hidup yang mistik bahkan klenik. Bukan hanya rajin menggosok batu akik yang bertuah, menyembahyangi keris sakti, ritus-ritus tradisional bahkan purba, hingga perhitungan-perhitungan tidak “masuk akal” hanya untuk kawinan anak, menyunatkan, atau membangun jembatan.

Skizofrenia-kultural semacam ini menciptakan konsekuensi yang sama sekali tidak remeh. Kerja akal dalam ilmu pengetahuan, bukan lagi menjadi semacam modus pencarian makna hidup yang tunggal, menjadi pondasi dari cara berperilaku atau menyikapi zaman, namun sekadar menjadi salon atau busana pemantas (kelamben, dalam bahasa Jawa), yang dapat kapan saja ditanggalkan atau diganti dengan yang lain.

Apa yang terjadi dalam proses intelektualisasi di negeri ini, berbasis sains modern, umumnya berhenti pada kerja ingatan belaka: mengingat data atau hapalan. Beberapa ilmuwan Indonesia mungkin cakap dalam menghapal teori, mungkin mengomprehensi pemahaman permukaannya, namun ia tidak mampu –bahkan, sialnya, tidak mau—menyelam lebih dalam. Menggunakan prosedur berfilsafat, menanyakan dan mencari jawaban untuk mencapai pengertian paling subtil, adalah kemewahan luar biasa, dan membuat ilmuwan itu sama langkanya dengan makhluk purba. Taklah mengejutkan, sebagaimana riset yang saya buat (dahana, Jejak Posmodernisme: 2004) umumnya kaum intelektual Indonesia, sejak hampir seratus tahun lalu, keliru memahami dan mengimplementasi hasil-hasil pemikiran (teori, misalnya) para ilmuwan Barat.

Itulah juga latar yang membuat karya-karya ilmiah kita minim dan rendah kualitasnya. Membuat posisi Indonesia sebagai kontributor dunia akademik global di peringkat 163 dari 165 negara yang diteliti oleh lembaga PBB. Di level internal, seseorang dianggap sudah berilmu, bahkan ulama dalam turunan bahasa Arabnya, hanya karena ia hapal sekian surat atau ayat Kitab Suci. Apakah kemudian orang berilmu itu mengimplementasikan pengetahuan biblikalnya itu dalam hidup sehari-hari, orang makin tidak peduli. Asal dia sudah bergelar, entah profesor atau doktor dari disiplin agama, atau gelar-gelar kesantrian, dia sudah merasa berada di golongan istimewa, elit spiritual, lengkap dengan tuntutan pada pihak lain untuk menghargainya, termasuk dalam digit rupiah saat mereka ceramah.

Kekuatan Membaca

Menurut pemahaman rendah dari penulis, semua itu terjadi karena, bukan akibat ketidakma(mp)uan menggunakan dan memosisikan akal secara dominan, tapi karena kekeliruan dalam “membaca”, dalam literasi yang digemborkan hebat belakangan ini. Dalam bahasa Islam, “membaca” atau iqra memiliki posisi yang sentral bahkan hulu dari semua pemahaman dan keyakinan, dari tauhid, aqidah hingga syariahnya.

Pertama, kata iqra itu sesungguhnya memiliki fungsi yang desisif, bukan saja untuk menentukan kesalehan seseorang, tapi juga bagaimana memahami kesolehan itu hingga relasinya dengan Penciptanya. Kekeliruan dalam memahamai dan mempraktikkan iqra akan berimbas langsung pada realitas spiritual seseorang. Karena, kedua, dalam pandangan saya, bukan tanpa alasan mengapa kata dan ayat pertama yang diturunkan Yang Maha Pengetahuan itu adalah iqra, karena kekeliruan dalam memahami dan memraktikan itulah yang membuat makhluk bernama manusia ini kehilangan surga, menurut kisah dalam Kitab Suci.

Ketiga, bukan juga tanpa riwayat atau latar belakang alasan mengapa Sang Nabi Besar justru menolak ayat pertama yang diturunkan langsung padanya itu. Bahkan hingga dua kali. Ketika ketiga kalinya ia menerima, tentu saja, ada pertimbangan tersembunyi (yang mungkin kita tak mengetahuinya hingga saat ini) membuat Rasulullah saw kemudian menerimanya tanpa ragu.

Maka, iqra diserukan tiga kali tentu bukanlah tanpa maksud. Iqra pertama, kedua, dan ketiga, juga boleh jadi, memiliki makna yang berbeda, sehingga Nabi tidak menerima yang pertama dan kedua dengan alasan tertentu (mungkin bukan dalam kapasitas atau bukan dalam intensitasnya). Jika yang ketiga beliau terima, mungkin juga itulah iqra yang memang menjadi kapasitas atau bahkan kewajibannya.

Pengulangan wahyu itu bisa pula dimaknai sebagai tingkatan (maqam) dari cara kita “membaca” (ayat-ayat Ilahi), baik tersurat (di kitab) maupun tersirat (di semesta alam). Iqra di level pertama adalah kerja kita membaca simbolik-artifisial, baik dalam bentuk ayat-surat di kitab, maupun ayat-surat di kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya bacaan tingkat pertama ini harus menghasilkan pemahaman komprehensif dan substantif, sehingga ia kemudian menjadi panduan kaki kita melangkah, mata kita melihat, bibir kita bicara atau nafsu kita penuhi. Sebagaimana Nabi besar telah mencontohkannya.

Bila kemudian cara kita membaca hanya terbatas menyimpannya dalam memori kognitif kita, dan kita hidup hanya berdasar rasa dan syahwat kita, maka iqra level pertama pun belum berhasil kita jalankan bahkan di tingkat elementernya. Bagaimana dengan iqra kedua apalagi ketiga? Barangkali hanya yang mampu membaca di level kedua mengetahui siapa yang berada di level yang sama. Untuk level ketiga? Saya kira hanya memberi perintah itu yang tahu.

Tingkat kebudayaan sebuah bangsa, ditentukan setinggi apa produk-produknya mampu meluhurkan dan memuliakan manusia sebagai produsennya. Secara spiritual, sampai seberapa jauh kebudayaan itu mampu mengoptimalisasi (berkah) keilahian yang ada di sekujur diri manusia, antara lain dengan membaca dan berilmu secara benar dan baik. Apakah Indonesia, sebagai sebuah bangsa juga manusia di tingkat individualnya, telah memiliki kebudayaan (modernnya) yang produk-produknya sesuai dengan tujuan inti kebudayaan itu? Anda bisa memeriksa sendiri.

Pemeriksaan berdasar tulisan terurai sejak kalimat pertama tulisan ini sudah memberi sebagian bukti: bahkan bukan hanya agama, Tuhan pun kita pahami bahkan yakini secara ilusif. Sehingga hidup yang kita bela dan kerap kita banggakan ini, tetap terbelenggu dalam kehampaan dan kekosongan nebula yang bernama absurditas. Bisa jadi termasuk penulisnya sendiri.

 

 

 

 

Komentar