ABDI YANG FITRI

Dalam sebuah acara bincang di salah satu siaran TV  di bulan ramadhan ini, saya diminta membahas fenomena (sic!) tentang absensi pembantu rumah tangga (PRT), menjelang perayaan lebaran (Idul Fitri). Tentu saja saya bukan pengamat khusus persoalan tersebut, saat ditanya, namun jelas saya adalah bagian darinya. Lebih tegas, saya ini juga seorang PRT. Cuma secara terminologis sedikit “terangkat” statusnya, bukan lagi PRT yang sering digelincirkan menjadi “pret!”, tapi kini menjadi ART alias Asisten Rumah Tangga, atau “seni” dalam arti denotatif singkatannya.

Namun, peduli abreviasi mana yang digunakan, saya mengaku dengan jujur, sebenarnya sebagai manusia dan sebagai warga (apa pun kesatuan administratifnya), saya tidak lebih hanyalah seorang PRT/ART. Tidak cuma saya, tapi juga rakyat dari tingkat terendah hingga pengusaha besar juga pejabat publik dalam kedudukan tertinggi, tidak lain adalah pembantu rumah tangga. Pembantu yang secara bertanggungjawab ikut mengatur juga mengendalikan rumah tangga bangsa, negara ini.

Inilah sebuah etos yang seharusnya ada dalam diri kita, siapa pun atau apa pun kita. Sebagai manusia dan warga kita memiliki obligasi natural, bahkan seperti sudah menjadi takdir, harus mengabdikan diri, menjadi pelayan atau pembantu dari kepentingan-kepentingan dan tujuan bangsa/negara. Tanpa keterlibatan kita secara kolektif, bangsa dan negara akan mengalami kebangkrutan bahkan kehancuran, seperti banyak tanda mengatakan di masa belakangan ini.

Dalam latar budayanya, pengabdian ini terrepresentasi dalam posisi seorang abdi dalem. Seorang pegawai rendahan, dengan gaji yang sangat rendah bahkan tidak masuk akal, namun tetap bekerja dengan penuh tanggungjawab, ikhlas, dan loyal. Semata karena kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan itu bukan hanya bermanfaat tapi juga penting untuk menjaga, memelihara dan mengembangkan wibawa serta kedaulatan kerajaan (negara), dimana sang raja menjadi representasi simboliknya.

Inilah pengabdian sejati, dimana raja atau kepala negara dipatuhi sebagai representasi bangsa/negara, bukan sebagai simbol kepentingan pribadi pemegang jabatan/kekuasaan itu. Kita loyal –ini yang sering salah dipahami oleh para fans, teman atau sahabat para pejabat publik—bukan pada pribadi, bukan pada Ahok, Jokowi atau Mangkubumi, tapi pada Gubernur, Presiden, dan Sultan sebagai simbol dari lembaga besar yang direpresentasikannya: DKI, Indonesia dan Kerajaan Ngayogyakarta.

Pada dimensi atau maqam yang berbeda, etos di atas juga berlaku paralel bahkan integratif dengan pengabdian kita pada Dzat yang kita Maha Muliakan. Di dimensi spiritual, manusia hanyalah abdi untuk mengurus dan mengatur kerajaan Ilahiah yang Ia “dirikan”. Kita bertanggungjawab membangun sebuah masyrakat agamis/religius, sesuai dengan dasar moralitas (syariah/fiqih, dharma, dsb) yang sudah Dia tetapkan sebagai konstitusi kehidupan kita. Bila kita mengingkari atau mengkhianatinya, kita langsung menjadi oknum yang justru mendestruksi keagungan dan kemuliaan kerajaan ilahiah itu.

Apa yang sedang atau telah kita lakukan selama Ramadhan ini tidak lain adalah semacam exercise atau latihan menciptakan sikap dan tindakan praktis yang diturunkan dari moralitas berbasis budaya di atas. Yang bila kita dapat kita lalui dengan baik akan memberi kita hadiah kecil semacam “kemenangan” dari rasa ikhlas yang fitri, yang memberi kita semacam penyegaran, pembaruan atau recharging dari kemanusiaan kita terhina, terdestruksi dan terlaknat oleh kehidupan modern sehari-hari.

Tapi apa yang harus lekas disadari, Ramadhan hanya latihan, lebaran hanya kemenangan kecil, dan hanya menjadi pintu bagi kemenangan besar yang harus kita raih: kemenangan manusia sebagai insan-ilahiah. Kemenangan besar yang harus diperjuangkan setelah kita melalui pintu “Idul Fitri” dengan cara tidak lain: mengimplementasikan semua yang kita latih selama Ramadhan dalam hidup sehari-hari kita.

Dalam implementasi itu, seorang tukang ketoprak dapat menjadi abdi dalem Dia yang Maha Terabdi, seperti juga sebagai abdi negara, dapat melakukan hal-hal mulia dalam batas wilayah (kapasitas) yang dimilikinya. Dan keluhuran perbuatan itu tidak harus membuatnya merasa minor, subordinat atau remeh berhadapan dengan apa yang dilakukan oleh orang lain yang dalam kelas (apa pun) ditempatkan lebih tinggi. Maka bisa jadi, tindakan seorang penggali sumur atau pemulung sampah, jauh lebih mulia atau luhur ketimbang seorang taipan atau menteri yang memanipulasi jabatannya bukan demi keagungan Allah atau negara, tetap semata kepentingan sempit, lahiriah dan fana, dirinya sendiri.

Berapa Ramadhan dan lebaran sudah kita lewati. Berapa puluh kali sudah latihan kita jalankan. Apa akan kita lakukan itu sepanjang masa? Hanya karena kita merasa kuasa, kuat, dan merasa lebih perlu diabdi ketimbang mengabdi. Marilah kita menggeser sikap itu dalam sikap yang lebih tawadhu, melihat diri sendiri hanya hamba kecil yang hidup dan dihidupkan hanya untuk mendedikasikan (mengabdikan) keseluruhan hidup personal kita pada sesuatu yang jauh lebih mulia dari diri kita, bahkan keluarga atau puak kita sendiri: Negara, kerajaan Tuhan yang menciptakan.

Maka Idul Fitrilah Anda, lebaranlah Anda, selamanya.

 

 

 

Komentar